Jakarta (10/03) – Undang-undang industri pertahanan menetapkan KKIP mempunyai tugas dan wewenang salah satunya menetapkan standar industri pertahanan. Sebagai bahan masukan untuk menyusun penetapan tersebut, KKIP perlu mendapat masukan akademik dalam bentuk kajian.

Pada tahun 2021, tim ahli KKIP mengambil inisiatif penyusunan kajian tersebut dengan menghadirkan konsultan ahli dan kunjungan langsung ke beberapa BUMN dan BUMS yang bergerak di bidang alat-alat pertahanan dan keamanan.

Tujuan kajian standardisasi Industri Pertahanan ini dilakukan untuk membuat metode dalam standardisasi Industri Pertahanan yang ada di Indonesia dan dapat diimplementasikan dalam semua aktivitas pengadaan Alpalhankam sehingga akan membuat produk Industri Pertahanan dapat bersaing dengan produk luar.

Standardisasi untuk Industri Pertahanan secara umum terbagi menjadi beberapa tahapan yakni: research and development, prototype, bangtekindhan (pilot & demonstrasi dan komersialisasi), dan proven. Tahapan tersebut perlu dijalankan bagi masing-masing Industri Pertahanan dalam menciptakan produk Alpalhankam hingga tahap penjualan terkecuali bagi industri kapal karena memiliki karakteristik tersendiri. Karena membutuhkan biaya yang besar, tidak ada tahapan prototipe pada pembuatan kapal.

Konstruksi Umum Standardisasi Industri Pertahanan Indonesia

Tahapan inovasi Industri Pertahanan pada program-program terkait terdiri atas dua model.

Pada model pertama tahapan inovasi mencakup R&D, prototipe, pengembangan teknologi dan Industri Pertahanan serta komersialisasi dan purna jual. Model ini diterapkan oleh Industri Pertahanan di Indonesia yang fokus pada pengembangan propelan, kendaraan angkut personil dan unmanned system.

Sedangkan pada model kedua tahapan inovasi mencakup R&D, pengembangan teknologi dan Industri Pertahanan serta komersialisasi dan purna jual. Model ini diterapkan oleh Industri Pertahanan di Indonesia yang fokus pada pengembangan kapal perang.

Saat ini, tahapan inovasi yang dilaksanakan oleh Industri Pertahanan khususnya pada tahap R&D, pembangunan prototipe dan Bangtekindhan dilaksanakan dan dikoordinasikan melalui skema bantuan pendanaan yang terdapat dalam program Pembinaan Potensi Teknologi Industri Pertahanan (Binpotekindhan) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pertahanan.

Model Inovasi Industri Galangan Kapal

Model inovasi pada galangan kapal ini dapat juga disebut “model terintegrasi”, artinya pengembangan paralel dengan tim pengembangan terintegrasi harus ada di perusahaan/industri dan Kementerian. Selain itu, R&D terutama rekayasa dan produksi seharusnya terintegrasi dan kolaborasi horizontal harus dikembangkan dengan melibatkan mitra strategis (misalnya: lembaga penelitian, perusahaan khusus R&D, dll.) sehingga tidak diperlukan adanya prasyarat mengenai pembuatan prototipe yang membutuhkan biaya yang besar.

Tujuan utama dari model pengembangan inovasi pada galangan kapal ini adalah untuk mengurangi waktu pengembangan produk baru dan mengurangi biaya untuk pembuatan prototipe produk yang akan dihasilkan.

Namun demikian, model pengembangan inovasi seperti ini harus memungkinkan perusahaan untuk melakukan efisiensi waktu dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan R&D dengan mendukung integrasi dan jaringan dengan stakeholder lain yang diperlukan.

Model ini dapat dilakukan industri galangan kapal yang ingin mengoptimalkan pengembangan inovasi dan membangun rantai kolaborasi dengan stakeholder potensial. Dalam konteks ini, program Bangtekindhan dapat menjadi wadah bagi industri galangan kapal untuk mulai membangun suatu konseptualisasi sebagai industri galangan kapal yang terbuka dan inovatif.

Model Inovasi Industri Unmanned System

Teknologi seperti kontrol penerbangan, teknologi komunikasi, fungsi pengontrol dan sistem navigasi memiliki koneksi dan kompleksitas yang tinggi. Oleh karena itu, diperlukan dinamika inovasi yang lebih terbuka, terutama saat mengembangkan teknologi tersebut.

Dalam inovasi industri unmanned system, tahapan yang dilaksanakan meliputi tahap penelitian dan pengembangan, tahap pembangunan prototipe, tahap pengembangan teknologi dan Industri Pertahanan (Bangtekindhan) dan tahap komersialisasi dan purna jual.

Program Bangtekindhan merupakan program dari Kementerian Pertahanan dalam memberdayakan Industri Pertahanan di Indonesia dalam menghasilkan produk Alutsista melalui pembangunan first article sebagai produk awal dalam proses komersialisasi produk Industri Pertahanan.

Model Inovasi Industri Propelan

Permasalahan dalam penelitian propelan di Indonesia adalah: a) terbatasnya eksplorasi material baru, b) keterbatasan basis data material propelan; c) keterbatasan industri pendukung (bahan baku) propelan; dan d) keterbatasan peralatan produksi untuk mendukung formulasi propelan baru.  

Dalam inovasi industri propelan, tahapan yang dilaksanakan meliputi tahap penelitian dan pengembangan, tahap pembangunan prototipe, tahap pengembangan teknologi dan Industri Pertahanan (Bangtekindhan) dan tahap komersialisasi dan purna jual.

Program Bangtekindhan merupakan program dari Kementerian Pertahanan dalam memberdayakan Industri Pertahanan di Indonesia dalam menghasilkan produk alutsista melalui pembangunan first article sebagai produk awal dalam proses komersialisasi produk Industri Pertahanan.

Tim Ahli dan konsultan tengah melaksanakan diskusi pengumpulan data di PT. Hariff Daya Tunggal Engineering dalam rangka penyusunan kajian

Model Inovasi Industri Kendaraan Angkut Personil

Industri Pertahanan dalam negeri termasuk industri kendaraan angkut personil telah tumbuh dengan fokus pada pemenuhan TKDN di bawah koordinasi, kontrol dan perlindungan pemerintah. R&D Pertahanan dilaksanakan dengan dukungan Kementerian Pertahanan dan lembaga riset, sedangkan produksi dilakukan oleh Industri Pertahanan.

Dalam inovasi industri kendaraan angkut personil, tahapan yang dilaksanakan meliputi tahap penelitian dan pengembangan, tahap pembangunan prototipe, tahap pengembangan teknologi dan Industri Pertahanan (Bangtekindhan) dan tahap komersialisasi dan purna jual.

Program Bangtekindhan merupakan program dari Kementerian Pertahanan dalam memberdayakan Industri Pertahanan di Indonesia dalam menghasilkan produk Alutsista melalui pembangunan first article sebagai produk awal dalam proses komersialisasi produk Industri Pertahanan.

Tindak lanjut hasil kajian

Tim ahli KKIP memandang bahwa kajian standardisasi ini harus berkelanjutan dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pada tahun 2022, tim ahli menyusun kajian tentang ekosistem industri. Keduanya saling berhubungan karena standardisasi merupakan sebuah aktivitas yang meliputi banyak pihak dalam satu ekosistem. Kajian tersebut telah diserahkan ke Wakil Menteri Pertahanan selaku Sekretaris KKIP pada awal tahun 2022 lalu.

Selengkapnya kajian tersebut dapat dibaca dengan mengklik tautan berikut: https://1drv.ms/b/s!AnoMAloClDtB4kQML9d6zjB9qBTV?e=lezGHe

Translate »