Bagian 2

 

Uji Coba di tahun 2017

 

Uji coba teknologi ban ini sebenarnya sudah dimulai dari tahun 2017, hanya saja saat pertama kali diuji coba hasilnya masih kurang memuaskan. Hal ini terjadi karena minimnya pengalaman dan pengetahuan mengenai bahan dan material. Tidak hanya itu tim riset TNI AD juga masih memiliki kendala pada peralatan untuk membuat ban tersebut. Karena cetakan ban dibuat manual, seringkali ban yang dibuat tidak presisi. Dampaknya ban menjadi tidak stabil, bahkan ada ban percobaan yang konstruksinya pecah.

Setelah mengalami serangkaian percobaan dan kegagalan, pengembangan teknologi ban ini kemudian membuahkan hasil. Cetakan ban yang semula hanya dibuat manual lama kelamaan menjadi lebih presisi karena dibuat dengan menggunakan mesin.

Setelah ban ini berhasil dibuat, Poltekad TNI AD kemudian mengadakan berbagai macam uji coba rintangan, seperti melewati papan dengan banyak paku tertancap, jalanan yang berbatu, hingga yang paling ekstrim ditembak dengan peluru.

Untuk pengujian peluru sendiri menggunakan peluru kaliber 5,56 mm seperti yang digunakan pada senapan serbu Pindad seri SS1 dan senapan serbu buatan Amerika, M16. Pada uji tembak tersebut jarak maksimal yang digunakan 100 m. Setelah ditembak, ban masih bisa digunakan dengan nyaman.

Selanjutnya, setelah melakukan serangkaian ujian di area yang terbatas, rencananya ban ini akan diuji coba untuk durabilitasnya. Rencananya akan ada serangkaian uji coba untuk melewati jalanan aspal yang panas. Bila sudah berhasil melewati jalanan aspal, maka kemampuan ban ini sudah layak untuk dilepas ke market.

Sampai tulisan ini dibuat, pihak Poltekad TNI AD total mengalami sepuluh kali kegagalan hingga akhirnya tercipta ban yang kuat seperti ini.

 

 

 

[Masih berlanjut...]
Translate »